Purbalingga — MTs Negeri 3 Purbalingga menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) selama tiga hari, Selasa hingga Kamis, 7–9 Juli 2026, dengan mengusung tema besar “Penguatan Penilaian Otentik dalam Pembelajaran Menuju Guru yang Profesional dan Berkarakter”. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar madrasah dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru menjelang tahun ajaran baru.
Sejak pagi hari pertama, seluruh peserta yang merupakan tenaga pendidik MTsN 3 Purbalingga mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembukaan dan pre-test pemetaan kemampuan awal. Pre-test berisi 20 soal pilihan ganda berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang dirancang khusus untuk mengukur pemahaman awal peserta terhadap konsep penilaian otentik, jenis-jenis asesmen, Dimensi Profil Lulusan (DPL), dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.
“Pre-test ini bukan untuk menilai kelulusan siapa pun, melainkan cara kami memetakan kebutuhan belajar peserta sebelum materi utama disampaikan, seperti prinsip dan praktik pembuatan instrument asesmen yang akan kita bahas bersama selama tiga hari ke depan,” ujar Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Wafiroh, S.Ag., S.Pd.
Bedah Rapor Pendidikan, Refleksi Berbasis Data
Salah satu sesi yang menyita perhatian peserta adalah pembedahan Rapor Pendidikan 2026 milik MTsN 3 Purbalingga, sebuah instrumen evaluasi mutu satuan pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang bersumber dari hasil Asesmen Nasional. Dalam sesi ini, peserta diajak menelaah capaian pada berbagai dimensi seperti kemampuan literasi dan numerasi peserta didik, karakter, kualitas pembelajaran, hingga iklim madrasah.
Data menunjukkan capaian kemampuan literasi peserta didik MTsN 3 Purbalingga berada di angka 95,56 persen mencapai kompetensi minimum, naik dari tahun sebelumnya dan menempatkan madrasah pada peringkat atas secara nasional. Capaian ini bahkan menjadi salah satu keunggulan yang disorot dalam sesi diskusi.
“Rapor Pendidikan ini sangat penting untuk kita bahas. Ibarat cermin bagi kita semua, angka-angkanya membantu kita melihat apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu dibenahi bersama, sesuai semangat Identifikasi-Refleksi-Benahi yang selama ini kita dengungkan,” ujar Kepala MTsN 3 Purbalingga, Suwarno, S.Pd., M.Sc., dalam sambutannya.
Diskusi dalam sesi ini juga menyentuh keterkaitan antara hasil Rapor Pendidikan dengan praktik penyusunan soal HOTS dan asesmen berbasis kelas menegaskan bahwa perbaikan mutu pembelajaran perlu dimulai dari instrumen penilaian yang digunakan guru sehari-hari di kelas.
Melibatkan Seluruh Unsur Madrasah
Melalui rangkaian IHT ini, MTsN 3 Purbalingga berharap dapat mencetak instrumen penilaian yang lebih otentik dan berkualitas, sekaligus memperkuat internalisasi nilai-nilai Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta pada proses pembelajaran maupun penilaian sehari-hari di kelas.
“Harapannya, apa yang kita pelajari selama tiga hari ini tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar hadir dalam soal-soal yang kita susun dan asesmen yang kita jalankan di kelas masing-masing,” pungkas Kepala Madrasah. (Tim Humas MTsN 3 Purbalingga)
